Pages

Rabu, 23 Mei 2012

Pemarah Tidak Dapat Surga



Sekali lagi saya ingin berbagi apa yang pernah saya baca kali ini judulnya adalah pemarah tidak dapat surge menurut saya cukup menarik. Semoga bisa bermanfaat untuk pembaca terutama untuk saya sendiri. Bagaimanakah cara memancing kepiting? Ya, dengan menggunakan sebatang bambu. Selain bambu, kita memerlukan tali untuk mengikatkan batu kecil pada satu ujung bambu, dan mengikat ujung satunya lagi.
Kemudian, ayunkanlah bambu agar batu pada ujung tali terayun menuju kepiting yang diincar. Ganggulah kepiting itu dengan batu, menyentak dan nyentak, agar kepiting itu marah, dan jika cara itu berhasil, kepiting akan ‘menggigit’ tali atau batu tersebut dengan marah. Capitnya akan mencengkram batu atau tali dengan kuat sehingga dengan leluasa kita dapat mengangkat bambu yang ujungnya terdapat seekor kepiting yang sedang marah tadi.
Setelah itu tinggal kita kita masukkan kedalam panic dan seterusnya kepiting itu pun berakhir sebagai hidangan yang lezat di atas meja makan kita. Kepiting itu menjadi korban karena kemarahannya.
Kita sering melihat banyak orang jatuh dalam kesulitan, menghadapi masalah, kehilangan peluang, kehilangan jabatan, bahkan kehilangan segalanya karena marah.
Jika kita menjadi seorang pemarah, kita akan kehilangan energi dengan sia-sia. Mungkin bisa berakhir seperti cerita kepiting di atas berakhir sebagai korban santapan lezat. Sebaliknya, jika kita bisa menahan marah, kita akan selamat.
Menurut Sayidina Ali, ada empat hal yang paling berat untuk dilakukan, yaitu:
Ø  Memaafkan ketika marah.
Ø  Bederma ketika pailit atau dalam keadaan sulit.
Ø  Menjaga diri dari dosa ketika dalam kesendirian.
Ø  Menyampaikan kebenaran kepada orang yang ditakuti atau diharapkan.
Ada kata-kata indah yang saya ambil dari bacaan ini yaitu, Pemberani bukan berarti brangasan. Pemberani adalah orang yang bisa menahan nafsu saat marah.
Memang, hati boleh panas, telinga boleh merah, kepala boleh keras. Tapi pikiran harus selalu tetap jernih. Pastikan agar akal pikiran tetap jernih dan ekspresikan kemarahan dalam bentuk yang sehat. Kendalikan diri dan jangan terbawa emosi.
Laa taghdhab, walakal jannah,” begitu hadits Nabi Muhammad SAW yang artinya” Jangan marah, bagimu surga,”.
Diantara tanda keberanian seseorang adalah mereka yang dapat menahan amarahnya. Orang yang menuruti amarahnya akan terhina, tercela, dan jatuh wibawa, serta hancur kredibilitasnya. Kalaupun harus marah, itu pun karena hal yang sangat prinsip, misalnya karena pelecehan terhadap Tuhan, bukan karena pribadinyanya yang tersinggung.
Jadi, bila kita menghadapi gangguan, baik itu batu kecil atau batu besar, hadapilah dengan bijak, redam kemarahan sebisa mungkin, lakukan penunndaan dua atau tiga detik dengan menarik nafas panjang, kalau perlu pergi ke kamar kecil, cuci muka atau basuhlah tangan dengan air dingin, dan berwudhulah agar murka dan kita terlepas dari hal-hal yang bisa menghancurkan masa depan.


0 komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

About